Penyebab Rambut Rontok Pasca Covid-19, Penyintas Wajib Tahu

Covid 19 memberikan beberapa dampak yang dapat dialami oleh beberapa penyintas, salah satunya ialah mengalami kerontokan rambut. Rambut rontok pasca Covid memang bukanlah menjadi gejala yang spesifik, tidak semua pasien mengalami gejala ini. Penyebab beberapa orang mengalami rambut rontok setelah pulih dari Covid 19 telah diamati oleh sejumlah ahli.

Beberapa orang yang mengalami rambut rontok setelah pulih dari Covid 19 diungkapkan oleh penyintas Covid 19 di salah satu grup . "Yang pasca covid, efek rambut rontok ada gak..? Butuh berapa lama untuk pertumbuhan rambut? Makasih," tanya salah satu penyintas di grup Survivor Covid 19 pada 2 November 2021. "Saya juga rambut rontok parah. Perawatannya gimana ya?," Ujar survivor lainnya.

Dikutip dari pada Senin (8/11/2021), dokter kulit di Manhattan Dermatologi and Cosmetic Surgery, Dendy Engelman, melihat adanya peningkatan penyintas Covid dengan rambut rontok sekitar 6 minggu setelah lockdown diterapkan di New York pada pertengahan Maret. Dendy mengatakan, setidaknya ada peningkatan 25 persen orang yang datang dengan keluhan rambut rontok kepadanya. "Setidaknya ada peningkatan 25 persen orang yang datang dengan rambut rontok," ujarnya dikutip dari .

"Ini belum didokumentasikan di situs medis utama sebagai gejala, tetapi pasien menunjukkan kepada saya hasil tes positif mereka," lanjut Dendy Engelman. Dikutip dari Kompas.com , spesialis penyakit menular dari UW Helath di Madison, Wisconsin, AS, Dr Aurora Pop Vicas, jenis kerontokan rambut pasca Covid 19 disebut telogen effluvium. Telogen Effluvium merupakan kerontokan rambut setelah melalui pengalaman yang membuat stres.

Dikutip dari Kompas.com, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di The Lancet menunjukkan bahwa 22 persen pasien Covid 19 rawat inap di China melaporkan mengalami rambut rontok enam bulan setelahnya. Berikut ini penyebab rambut rontok yang dialami para penyintas Covid 19. Dikutip dari Kompas.com, dokter spesialis kulit dari Vivaldy Skin Clinic , dr Dedianto Hidajat, menyebut kerontokan rambut karena Covid 19 merupakan gejala tidak spesifik dan tidak terjadi pada semua pasien.

Salah satu penyebab kerontokan pasca Covid adalah karena pasien Covid 19 mengalami gejala demam yang tinggi. Kedua, adanya stres baik psikis maupun fisik selama menderita Covid 19 dan menjalani isolasi mandiri. Telogen effluvium merupakan kondisi yang terjadi ketika adanya perubahan jumlah folikel rambut.

Folikel rambut berfungsi untuk menumbuhkan rambut. Kondisi yang memicu telogen effluvium diketahui biasa terjadi beberapa bulan setelah terjadinya peristiwa yang menegangkan. Peristiwa ini seperti tekanan emosional, operasi besar, atau demam yang tinggi.

Dikutip dari Kompas.com, Dokter kulit di Ohio State University Wexner Medical Center, Susan Massick mengatakan, ketika ada kejutan pada sistem kerja tubuh, maka tubuh masuk ke mode penguncian. Karena hal itulah tubuh hanya berfokus untuk melakukan pemulihan pada fungsi fungsi yang penting. "Pertumbuhan rambut tidak sepenting fungsi lainnya, sehingga Anda berakhir dengan kerontokan rambut," kata Susan Massick dikutip dari Kompas.compada Senin (8/11/2021).

Rambut rontok memang tidak bisa dihindari sepenuhnya oleh semua orang. Seseorang dapat mengalami rambut rontok hingga 100 helai perhari karena berbagai penyebab. Pola makan yang buruk, kondisi tubuh yang kurang baik,stres, produk perawatan rambut, serta usia dapat menyebabkan rambut rontok.

Namun, apa yang dialami oleh penyintas Covid 19 sangat berbeda dengan rambut rontok biasa. Rambut rontok yang dialami pasca Covid 19 sangatlah intens. Kerontokan rambut pasca Covid 19 dikatakan terjadi dalam satu hingga tiga bulan setelah seseorang mungkin pulih.

Dikutip dari Kompas.com, ahli kulit mengatakan, fase kerontokan rambut yang ekstrem dan intens setelah sembuh dari Covid 19 dapat hilang sepenuhnya dalam rentang waktu 6 9 bulan. Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.